Hubungan Ekonomi di Teknik Elektro Dalam Era Digital dan Energi Terbarukan
Energi Terbarukan
merupakan salah satu sumber energi yang dapat memenuhi kebutuhan energi dan menyumbang
kepada bauran energi dan membantu usaha mitigasi dampak perubahan iklim
global. Sumber energi ini digunakan hampir di seluruh dunia
yang telah memanfaatkan energi terbarukan sebagai sumber energi strategis
untuk mengantisipasi krisis energi.
Secara ekonomi,
pemanfaatan sumber daya yang dapat diperbarui jelas dapat memberikan dampak
besar. Sebab, proyek pembangunan energi terbarukan bisa meningkatkan lapangan
kerja, menguntungkan suplier material, dan menghidupkan perekonomian secara
bersamaan. Di sisi lain, pemanfaatan energi terbarukan juga bisa memberikan
dampak yang baik dalam jangka panjang karena tergolong lebih efisien dalam segi
biaya. Hanya saja, untuk mewujudkan penggunaan energi terbarukan diperlukan
investasi yang tidak sedikit dan hal ini seringkali membuat pengembangan energi
terbarukan jadi terhambat.
Indonesia tengah mempersiapkan program pemasangan ratusan
ribu Pembangkit
Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di sektor rumah tangga sebagai upaya memulihkan kondisi
perekonomian yang melemah akibat hantaman pandemi virus corona. Program yang
diberi nama Surya Nusantara ini pertama kali diinisiasi oleh Institiute for
Essential Service Reform (IESR), sebuah lembaga think thank yang aktif
melakukan advokasi dan kampanye untuk menjamin tercapainya pemenuhan kebutuhan
energi masyarakat.
Skema pemasangan PLTS Atap dengan
kapasitas 1 GWp per tahun ini dinilai dapat mengurangi beban anggaran subsidi
listrik nasional untuk rumah tangga miskin hingga Rp 1,3 trilun per tahun dan
menurunkan emisi gas 1,05 juta ton CO2e per tahun. Surya Nusantara juga
diyakini dapat menyerap 20 hingga 22 ribu tenaga kerja terampil.
"Nantinya ini akan menyerap tenaga kerja yang cukup
banyak jadi mulailah ini dikomunikasikan dengan beberapa kementerian lain termasuk
Kementerian Keuangan. Termasuk rekomendasi kami juga kartu prakerja ini bisa
digabungin dengan ini, karena pelatihannya bisa dimasukkan ke situ. Jadi
selesai pelatihan, orangnya bisa pasang,” ungkap Citra.
Dimulai tahun 2021
Saat ini IESR dengan berbagai kementerian terkait tengah
mematangkan segala persiapan. Salah satunya memetakan sasaran strategis
pemasangan PLTS Atap yang memiliki nilai anggaran APBN Rp 15 triliun per tahun
ini. Program yang resmi direkomendasikan IESR pada bulan April lalu diharapkan
sudah dapat dieksekusi pada awal tahun 2021 dan berlanjut hingga tahun 2025
mendatang.
"Untuk rumah tangga bersubsidi bisa kita pilih
provinsi-provinsi yang penerima subsidinya paling banyak misal Jawa Tengah,
Jawa Timur. Di Jawa masih banyak yang menerima susbsidi, jutaan jumlahnya. Atau
kita menyasar provinsi dengan biaya pembangkitan listik yang paling besar, di
kawasan Indonesia timur misalnya. Bisa juga dipikirkan soal dari segi lokasi
mana yang lebih gampang karena ini berkaitan dengan barang, ditribusi
logistik,” papar Citra.
Ditargetkan sebanyak 800.000 rumah berdaya 900vA dapat
dipasangi satu unit PLTS Atap berkapasitas 1,5 KWp setiap tahun. Berdasarakan
data IESR pada tahun 2019, Indonesia memiliki potensi PLTS Atap yang sangat
besar mencapai 655 GWp.
Lebih lanjut, Citra menjelaskan terdapat beberapa kendala
yang menyebabkan pemanfaatan energi surya di kalangan rumah tangga masih sulit
terealisasi hingga kini, antara lain harga, ketersediaan unit, informasi PLTS
Atap yang masih belum tersosialisai dengan baik, hingga dari segi peraturan.
"Jika ini disosialisasikan secara masif dan
pemerintah memberikan dukungan pembiayaan, dorong bank-bank untuk kasih kredit
murah saya rasa masyarakat akan tertarik,” pungkasnya.
Target bauran 23%
Indonesia memiliki target bauran energi terbarukan
minimal 23% pada tahun 2025 mendatang yang dicanangkan dalam PP No. 79/2014
tentang Kebijakan Umum Nasional dan Perpres No. 22/2017 tentang Rencana Umum
Energi Nasional. Namun nampaknya target tersebut bakal urung tercapai dengan
kondisi pertumbuhan ekonomi yang stagnan di angka lima persen, terlebih lagi
pada tahun ini pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh negatif
di tengah krisis pandemi.
Direktur Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian
ESDM Harris Yahya mengatakan, pemanfaatan energi terbarukan dapat dipercepat di
era normal baru, salah satunya energi surya.
"Satu kondisi yang memperlihatkan kita saat ini
fokus mengembangkan EBT termasuk yang intermiten atau berselang, yakni solar
photovoltaic (PV) atau panel surya kalau kita lihat secara global harganya
semakin turun, biaya implementasinya juga semakin murah,” tutur Harris dikutip
dari Kompas.com, Kamis (18/06).
Pada tahun 2019, anggaran subsidi energi negara mencapai
angka Rp 136,9 triliun di mana Rp 52,7 triliun dialokasikan untuk subsidi
listrik.
Kepada Jakarta Post, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal
Kementerian Keuangan, Joko Tri Haryanto, mengatakan BKF mencoba
mendiversifikasikan sumber anggaran di luar APBN seperti dengan penambahan surat
utang negara dan obligasi syariah. Joko mengaku tengah menunggu respon dari
Kementerian ESDM terkait diversifikasi ini.
"Jika program ini memiliki efek berganda yang baik,
apakah dalam pendapatan masyarakatatau membuka lapanagn kerja lokal, maka 15
triliun bisa berasal dari APBN,” ungkap Joko, Jumat (19/06).
Sumber Referensi :
1. https://wri-indonesia.org/id/blog/3-alasan-untuk-berinvestasi-di-sektor-energi-terbarukan-sekarang
2. Surya
Nusantara: Program Energi Terbarukan Upaya Pulihkan Ekonomi Indonesia |
INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 20.06.2020
3. https://ekonomi.kompas.com/read/2018/09/20/103500426/era-digital-jangan-sampai-listrik-hanya-sekadar-impian
4. https://ee.uii.ac.id/2021/01/14/microgrid-masa-depan-sistem-tenaga-listrik/
Comments
Post a Comment